Selasa, 20 Maret 2012

Suku Asmat



SEJARAH
         Orang Asmat percaya bahwa mereka berasal dari Sang Pencipta (Fumeripits). Pada suatu masa Fumeripits terdampar di pantai dalam keadaan sekarat dan tidak sadarkan diri. Namun nyawanya diselamatkan oleh sekelompok burung dan kemudian dia hidup sendirian di suatu daerah baru. Karena kesepian ia membangun sebuah rumah panjang yang diisinya dengan patung-patung kayu yang diukir. Ia pun membuat tifa yang ditabuhnya setiap hari. Tiba-tiba saja patung-patung tadi bergerak mengikuti irama suara tifa dan yang lebih ajaib lagi, patung-patung tersebut berubah menjadi manusia. Akhirnya Fumeripits pergi mengembara dan di setiap daerah yang disinggahinya dibangun rumah panjang serta dibuat patung-patung. Dengan demikian tercipta manusia-manusia baru yang sekarang dikenal sebagai orang Asmat. Selain itu, sebagian orang meyakini konon Asmat berasal dari sebutan asmat-ow yang berarti "kami manusia sejati" atau as-asmat, yakni "kami manusia pohon". Pohon merupakan benda yang amat luhur dalam pandangan mereka, pohon adalah manusia dan manusia adalah pohon. Akar pohon adalah kaki manusia, batangnya adalah tubuh manusia, dahan-dahannya adalah tangan manusia, daunnya adalah kepala manusia. Keadaan lingkungan yang ganas, berawa-rawa dan berlumpur menyebabkan pohon dan kayu menjadi penting bagi kehidupan mereka.

IDENTIFIKASI LOKASI
            Suku Asmat adalah salah satu dari ratusan suku bangsa di Propinsi Irian Jaya. Suku bangsa Asmat berdiam di pesisir barat daya Irian Jaya. Lebih kurang 50.000 orang Asmat mendiami wilayah administratif Kabupaten Merauke, yang sekarang terbagi atas empat kecamatan, yakni Sarwa-Erma, Agats, Ats, dan Pantai Kasuari. Daerah Asmat luasnya 26.275 km2 merupakan daerah landai yang dialiri oleh tidak kurang dari 10 sungai besar dan ratusan anak sungai. Sungai-sungai besar itu dapat dilayari kapal dengan bobot 1.000-2.000 ton sampai sejauh 50 kilometer ke hulu. Sejauh 20 kilometer ke hulu air sungai-sungai itu masih terasa payau. Orang Asmat berdiam dilingkungan alam terpencil dan ganas dengan rawa-rawa berlumpur yang ditumbuhi pohon bakau, nipah, sagu, dan tumbuhan rawa lainnya. Perbedaan pasang dan surut mencapai 4-5 meter sehingga dapat dimanfaatkan untuk berlayar dari satu tempat ke tempat lain. Pada waktu pasang surut orang bureau ke arah hilir atau pantai, dan kembali ke hulu ketika pasang sedang naik.

BAHASA
Bahasa orang asmat termasuk ke dalam bahasa yang dikelompokkan oleh para ahli liguistik disebtt Languanges of the Sourth Division yang berbeda antara orang asmat hilir dengan orang asmat pantai.

MATA PENCAHARIAN
            Makanan pokok orang Asmat adalah sagu, serta masakan tambahannya adalah ubi-ubian dan berbagai jenis dedaunan. Dimana sagu diibaratkan sebagai wanita, kehidupan yang keluar dari pohon sagu sebagaimana kehidupan keluar dari rahim ibu. Selain itu, mereka juga makan bermacam-macam binatang, seperti ulat sagu, tikus hutan, kuskus, babi hutan, burung, telur ayam hutan, dan ikan. Untuk mendapatkan sagu, kaum pria hanya bertugas menebang dan membelah batangnya. Sedangkan pekerjaan menumbuk sampai mengolah sagu dilakukan oleh kaum wanita. Secara umum, pencarian bahan makanan termasuk menjaring ikan di laut atau sungai dilakukan oleh kaum wanita, sedang kaum pria selalu sibuk dengan kegiatan perang antar klen atau antar kampung. Kegiatan pria lebih berpusat di rumah bujang, dimana kaum pria beranggapan bahwa berperang, berburu dan melindungi keluarga lebih terhormat dari mengolah sagu dan menangkap ikan.

SISTEM KEPERCAYAAN
            Sesuai dengan kepercayaan, orang Asmat tidak menguburkan mayat. Mayat itu biasanya hanya diletakkan di atas para, yang telah disediakan di luar kampung dan dibiarkan sampai busuk. Kelak, tulang belulangnya dikumpulkan dan disimpan di atas pokok-pokok kayu. Mereka percaya bahwa roh orang yang telah meninggal (bi) masih tetap berada dalam kampung, terutama kalau orang itu diwujudkan dalam bentuk patung mbis, yaitu patung kayu yang tingginya 5-8 meter. Mereka percaya ada kekuatan gaib yang melebihi batas kemampuan manusia. Kekuatan gaib itu mempunyai kuasa untuk mencipta, menghidupkan, membahagiakan, dan mematikan. Sumber kekuatan itu adalah roh leluhur. Orang yang baru meninggal buat sementara hidup dalam tubuh binatang pemakan buah-buahan, binatang malam, atau binatang berbulu hitam. Selain itu, baru tahun 1952 terdapat gereja dengan ajaran agama katolik. Gereja itu sendiri mengembangkan ajaran agama melalui pendekatan budaya.

POLA PERKAMPUNGAN
            Perkampungan orang Asmat yang jumlahnya tidak kurang dari 120 buah tersebar dengan jarak yang saling berjauhan. Kampung mereka didirikan dengan pola memanjang di tepi-tepi sungai dan dibangun sedemikian rupa sehingga mudah mengamati musuh. Paling tidak ada tiga kategori kampung bila dilihat dari jumlah warganya, yaitu:
1.      Kampung besar, yang umumnya terletak di bagian tengah dan dihuni oleh sekitar 500-1000 jiwa,
2.      Kampung di daerah pantai, rata-rata dihuni oleh sekitar 100-500 jiwa,
3.      Kampung bagian hulu sungai, rata-rata dihuni oleh 50-90 jiwa.
            Dalam tradisinya, dalam sebuah kampung terdapat dua macam bangunan, yaitu:
1.      Rumah bujang (yeu), ditempati oleh pemuda-pemuda yang belum kawin dan tidak boleh dimasuki oleh wanita dan anak-anak.  Rumah ini terdiri atas satu ruangan dibangun di atas tiang-tiang kayu dengan panjang 30-60 meter dan lebar sekitar 10 meter. bias Anya di dalam rumah ini dilaksanakan berbagai upacara adat, karena bangunan ini mempunyai arti religius yang penting dan merupakan pusat kehidupan kampung. Dalam rumah ini diselenggarakan segala macam permusyawaratan untuk merencanakan suatu pesta, peperangan, atau perdamaian. Selain itu, pada waktu senggang di rumah ini orang menceritakan dongeng-dongeng suci para leluhur dan kisah Kahayan dalam peperangan, membuat dan mengukir perisai, tombak, panah, dan lainnya. Setiap klen punya rumah bujang sendiri, oleh karena itu banyaknya rumah bujang dalam satu kampung menunjukkan jumlah klen yang ada.
2.      Rumah keluarga, biasanya didiami oleh satu keluarga inti yang terdiri atas seorang ayah, seorang atau beberapa orang istri dan anak-anak mereka. Dimana setiap istri punya dapur, pintu dan tangga sendiri.

SISTEM KEKERABATAN
                        Orang Asmat yang mengenal klen itu mengatur perkawinan berdasarkan adat eksogami klen. Garis keturunan ditarik secara patrilinear, dengan adat menetap sesudah nikah yang virilokal. Adanya perkawinan poligami pada orang Asmat antara lain disebabkan karena adanya kawin levirat. Perkawinan seorang anak biasanya diatur oleh orang tua kedua belah pihak, tanpa diketahui sang anak. Seorang anak Asmat bisanya patuh kepada pilihan dan kehendak orang tuanya dalam hal pemilihan jodoh. Meskipun mereka sepasang remaja biasa berpacaran, tetapi mereka tidak harus kawin karena tidak sesuai dengan pilihan orang tuanya tadi. Namun kelak, mereka mungkin akan kawin lagi dengan pilihannya sendiri. Dalam kaitannya dengan pemilihan jodoh budaya Asmat ini juga mengenal adat kawin lari, artinya seorang laki-laki melarikan gadis yang disenanginya. Namun kawin lari itu seringkali berakhir dengan pertikaian atau pembunuhan.
            Selain itu, orang Asmat juga banyak yang melakukan poligami. Ada yang menduga poligami terjadi karena kaum prianya memiliki daya seks yang besar, buktinya ada yang memiliki hingga sembilan orang istri. Ada juga yang mengatakan, istrinya mendukung suami untuk kawin lagi agar beban kerja istri tersebut menjadi ringan karena berbagi dengan istri-istri lainnya. Meskipun begitu, keadaan keluarga seperti ini selalu rukun dan sesekali berada dalam keadaan tidak harmonis.

PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
            Pengetahuan suku Asmat ini bisa dilihat dari bagaimana mereka berburu serta membuat tiang-tiang guna upaca kepercayaan, meskipun dari segi pendidikan formal mereka masih sangat rendah. Pendidikan formal seringkali masih menghadapi kelangkaan guru yang memang tidak banyak orang yang bersedia mengabdi di daerah semacam itu. Selain itu, pada mulanya pematung, pengukir Asmat berkarya dengan alat-alat sederhana seperti kapak batu, kerang, tulang kasuari gigi binatang, dan beberapa waktu terakhir mereka sudah menggunakan kapak, pahat, dan pisau.

KESENIAN
            Kesenian yang terdapat dalam budaya orang Asmat terwujud dalam benda-benda budaya berupa seni patung dan seni ukirnya. Karya-karya seni itu kiranya tidak lepas dari sistem kepercayaan kepada roh-roh orang yang telah mati ataupun roh leluhur. Karena kepercayaan itu maka roh orang yang baru meninggal hidup dalam tubuh binatang tersebut kembali diabadikan dalam ukiran dengan motif binatang. Itulah sebabnya mereka membuat ukiran kelelawar (tar-wow), burung kakak tua hitam (utirep-wow), kuskus (fast-wow), belalang sembah (wewnet-wow), patuk burung rangkong (irmbi-wow), dan lainnya.
            Motif-motif hiasan pada karya seni Asmat cukup banyak ragman. Setiap ragam hias bukan sekedar ekspresi seni, akan tetapi lebih merupakan spirit bagi kehidupan mereka. Ukiran itu merupakan simbol yang mengandung harapan dan bahkan nilai-nilai untuk hidup bekerja keras, berani menghadapi hidup yang keras, harapan akan datangnya berkah dari leluhur, kemenangan dalam perang, rasa hormat pada wanita, mendapat keselamatanmemperoleh kemakmuran dan kesejahteraan, penuntun bagi arwah orang yang telah meninggal, dan lainnya. Motif-motif ukiran (wow) dikenal dengan nama-nama seperti anokos-wow, afulyak-wow, asufa-wow, ban-wow, bei-wow, betenokos-wow, bu-wow, bubakmakos-wow, dan lainnya.
            Dalam setiap tahap pengerjaan patung, mulai dari berangkat ke hutan, mencari kayu, sampai selesainya patung, dilalui dengan tindakan religius. Pada masa lalu, patung yang sudah selesai dikerjakan harus dressmaking dengan upacara yang disertai tindakan pengayauan kepala musuh. Dalam rangka upacara mbis (mbis pokumbi) seluruh penduduk kampung harus menyiapkan makanan untuk beebread hari karena selama upacara tidak ada yang pergi ke hutan. Lamanya upacara bisanya berlangsung selama berhari-hari, berminggu-minggu, pria dan wanita, tua dan muda, semua harus ikut menari di depan rumah ye. Para wanita biasanya menari pada siang sampai sore hari, sementara pria memukul tifa. Pada malam hari sampai pagi hari giliran kaum pria menari. Tari-tarian itu tampak sangat erotis dan dinamis. Pada saat seperti itu diberlakukan tindakan papis antara mereka yang mempunyai hubungan papis, artinya dua orang sahabat saling bertukar istri untuk malam-malam yang telah ditentukan. Tindakan papis bermaksud untuk mempererat hubungan persahabatan yang sangat diperlukan pada saat tertentu, misalnya dalam peperangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar